Permen Jelly

Maaf untuk judul yang abstrak. Hanya merasa judul itu cocok dengan cerita ini -_-
Ketika aku ingin marah pada es krim selalu saja gagal. Dia selalu bisa membuatku meleleh karena sikap manisnya itu.

Ini semua berawal ketika Jumat malam aku mengiriminya ucapan selamat ulang tahun. Oke, aku merasa sebal dan diacuhkan. Aku pun bertekad untuk tidak dekat-dekat lagi dan tidak peduli padanya ketika masuk kuliah nanti. Dan terbukti pada hari Senin. Aku berusaha untuk mengalihkan perhatianku ketika pandangan kami bertemu.
Bahkan setelah ujian usai pun es krim tetap acuh padahal jarang sekali tempat duduk kami berdekatan. Entah bagaimana ketika aku sedang di lorong dengan salah seorang teman, aku lihat es krim dan teman-temannya jalan bersama. Dan saat itu aku kembali berusaha acuh.
Ketika aku sedang membaca, aku merasakan seseorang mendekat padaku. Jeng.. jeng.. es krimku sudah tidak terlalu dingin lagi. Ia justru menjadi manis.
Dengan random-nya ia mendekat hanya untuk melihat sejenak apa yang aku lakukan namun pada akhirnya langkahnya kembali mendekat padaku dan ia mengajakku mengobrol -obrolan seperti “biasa”. Bahkan ketika temanku berusaha menjawab pertanyaannya, arah pandangannya masih tertuju padaku.
Hal seperti ini yang selalu membuatku tidak pernah bisa marah padanya. Selalu saja di saat aku berusaha untuk menerima kenyataan dan menjauh, ia pasti akan melakukan sesuatu yang membuatku kembali padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s