Selamat Ulang Tahun

Hampir saja aku lupa. Sekarang tanggal 3 Januari kan? Kalau begitu aku ucapkan

Selamat ulang tahun. Aku mendoakan yang terbaik untukmu.

It’s for you fridge. Ah no, you are not my fridge again, but my ice cream.

With warm love,
-lil queen-

Advertisements

Kapan Berubah?

Ini sudah masuk tahun 2014. Aku bertekad untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Well yeah.. tahun ini pun usiaku menginjak 20 tahun. How old I am..
Tapi aku merasa akan sulit aku menjalani perubahan itu. Aku sadar, semakin dewasa aku harus menjadi seseorang yang bisa bersosialisasi dengan baik. Dan masalahnya adalah semakin lama aku justru merasa lebih nyaman untuk menutup diri dari semua orang.
Apakah ini dialami oleh seseorang yang berada dalam tahap pendewasaan?
Lalu… kapan aku berubah?

Entahlah

Aku sendiri bingung kenapa aku tidak bisa dekat dengan mereka -orang-orang baru itu-. Aku sudah mulai bisa membaur sih. Mengobrol,bercanda,pergi bersama dan sebagainya. Tapi entah kenapa aku belum merasakan perasaan nyaman. Rasanya seperti ada sekat antara aku dan mereka.
Entahlah.

Rahasia

Terkadang ada hal yang tidak bisa kita ceritakan kepada siapa pun, bahkan dengan keluarga juga sahabat kita. Hingga hal itu berubah menjadi rahasia.
Namun satu yang pasti. Kita tidak akan memiliki rahasia pada Allah karena Allah mengetahui segalanya.
Dan juga..karena kita bisa menceritakan apapun pada Allah Yang Maha Pendengar 🙂

Sebuah Semangat

Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku merasa sedih. Padahal masih H+1 ulang tahun.
Aku memasang stiker menangis di line. Beberapa jam setelahnya Indri memberi respon berupa stiker. Ia pun memberi sebuah komentar.
“Semangat ya Dhisa. Jangan galau mulu. Yang bikin seneng itu diri kita sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Miss You.
Aku memang sensitif sehingga komentar yang diberikan Indri membuatku terharu dan kembali semangat.
Thank you so much Indri ❤

Tidak Terdefinisi

Dulu aku pernah bercerita tentang kaleng. Bagaimana aku galau tentang dia. Tapi sekarang aku merasa aku sudah benar-benar menganggapnya sebagai seorang kakak. Dan entah kenapa sekarang aku justru tidak bisa lepas dari dia -seseorang yang aku sebut kulkas-.
Saat itu aku pikir aku tertarik pada kulkas hanya sebatas “oh, keren.” Ternyata tidak.
Aku tertarik padanya dan mungkin… suka? Aku tidak yakin. Terlalu cepat untuk mendefinisikan perasaanku terhadapnya sebagai perasaan suka.
Perasaan ini berbeda dengan perasaan yang ku rasakan pada kaleng atau pada seseorang di masa lalu. Aku pikir perasaan ini hanya sebatas aku mengagumi seseorang yang berkharisma. Itu yang ada di pikiranku, bukan di hatiku.
Lalu sebenarnya perasaan apa ini?
Aku senang ketika bisa berteman dekat dan akrab dengannya. Aku sebal ketika tahu banyak yang menyukainya. Aku tidak suka ketika ada yang ‘modus’ padanya. Aku khawatir ketika dia mengalami kesulitan. Aku selalu ingin di dekatnya. Aku senang ketika bisa berguna baginya.
Tapi… aku tidak berdebar-debar ataupun grogi saat berada di dekatnya. Bahkan ketika aku tahu dia telah mengetahui perasaanku padanya, kami sama sekali tidak canggung.
Apakah ada yang salah? Aku benar-benar tidak paham.