Permen Jelly

Maaf untuk judul yang abstrak. Hanya merasa judul itu cocok dengan cerita ini -_-
Ketika aku ingin marah pada es krim selalu saja gagal. Dia selalu bisa membuatku meleleh karena sikap manisnya itu.

Continue reading

Advertisements

Tidak Terdefinisi

Dulu aku pernah bercerita tentang kaleng. Bagaimana aku galau tentang dia. Tapi sekarang aku merasa aku sudah benar-benar menganggapnya sebagai seorang kakak. Dan entah kenapa sekarang aku justru tidak bisa lepas dari dia -seseorang yang aku sebut kulkas-.
Saat itu aku pikir aku tertarik pada kulkas hanya sebatas “oh, keren.” Ternyata tidak.
Aku tertarik padanya dan mungkin… suka? Aku tidak yakin. Terlalu cepat untuk mendefinisikan perasaanku terhadapnya sebagai perasaan suka.
Perasaan ini berbeda dengan perasaan yang ku rasakan pada kaleng atau pada seseorang di masa lalu. Aku pikir perasaan ini hanya sebatas aku mengagumi seseorang yang berkharisma. Itu yang ada di pikiranku, bukan di hatiku.
Lalu sebenarnya perasaan apa ini?
Aku senang ketika bisa berteman dekat dan akrab dengannya. Aku sebal ketika tahu banyak yang menyukainya. Aku tidak suka ketika ada yang ‘modus’ padanya. Aku khawatir ketika dia mengalami kesulitan. Aku selalu ingin di dekatnya. Aku senang ketika bisa berguna baginya.
Tapi… aku tidak berdebar-debar ataupun grogi saat berada di dekatnya. Bahkan ketika aku tahu dia telah mengetahui perasaanku padanya, kami sama sekali tidak canggung.
Apakah ada yang salah? Aku benar-benar tidak paham.

Obrolan di Kala Hujan

Setelah kelas Bahasa Inggris aku sempat mengobrol dengan Paul di koridor sembari menunggu dia.
Kami mengobrol banyak hal hingga akhirnya sampai pada topik mimpi-target-tujuan.
Paul yang berpendapat bahwa kita seharusnya memiliki mimpi yang tinggi sedangkan aku yang masih setia dengan pemikiranku bahwa tidak perlu bermimpi tinggi -yang penting tercapai-.
Dan akhirnya Paul berkata,
“orang tidak menilai kesuksesan kita dari hasil yang kita dapat, tapi mereka menilai dari keberhasilan kita bangkit dari sebuah kegagalan.”
Aku pernah mendengar kalimat itu. Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda..
Rasanya kalimat itu seperti petir di kala hujan. Benar-benar membuka kesadaranku.
Dan meyakinkanku untuk tidak takut lagi bermimpi sebesar-besarnya. Karena ketika mimpimu jatuh pecahan mimpimu itu masih berukuran besar.

He is..

Halooo lama tak jumpa 🙂
Sekarang aku sudah kuliah. Dan ternyata kehidupan per-kuliah-an itu memang menyibukkan. Bahkan beberapa hari terakhir ini aku tidak tidur dan pulang lewat pukul sepuluh malam. Mungkin lain kali aku akan menceritakan kehidupanku yang baru itu 🙂
Sekarang aku akan menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan kuliah. Yap, dilihat dari judul saja pasti tertebak kalau yang aku ceritakan itu merupakan subyek ber-gender laki-laki.
Dia adalah salah satu kakak angkatanku. Kali ini aku tidak akan frontal seperti biasanya. Jadi, kita panggil dia dengan sebutan kaleng.
Continue reading