Sebuah Semangat

Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku merasa sedih. Padahal masih H+1 ulang tahun.
Aku memasang stiker menangis di line. Beberapa jam setelahnya Indri memberi respon berupa stiker. Ia pun memberi sebuah komentar.
“Semangat ya Dhisa. Jangan galau mulu. Yang bikin seneng itu diri kita sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Miss You.
Aku memang sensitif sehingga komentar yang diberikan Indri membuatku terharu dan kembali semangat.
Thank you so much Indri ❤

Obrolan di Kala Hujan

Setelah kelas Bahasa Inggris aku sempat mengobrol dengan Paul di koridor sembari menunggu dia.
Kami mengobrol banyak hal hingga akhirnya sampai pada topik mimpi-target-tujuan.
Paul yang berpendapat bahwa kita seharusnya memiliki mimpi yang tinggi sedangkan aku yang masih setia dengan pemikiranku bahwa tidak perlu bermimpi tinggi -yang penting tercapai-.
Dan akhirnya Paul berkata,
“orang tidak menilai kesuksesan kita dari hasil yang kita dapat, tapi mereka menilai dari keberhasilan kita bangkit dari sebuah kegagalan.”
Aku pernah mendengar kalimat itu. Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda..
Rasanya kalimat itu seperti petir di kala hujan. Benar-benar membuka kesadaranku.
Dan meyakinkanku untuk tidak takut lagi bermimpi sebesar-besarnya. Karena ketika mimpimu jatuh pecahan mimpimu itu masih berukuran besar.